Menjalankan ibadah umroh untuk pertama kalinya sering kali memicu rasa cemas sekaligus rindu. Rasa khawatir keliru menjalankan rukun atau tertukar urutan ibadah adalah hal yang wajar dirasakan setiap pemula.
Kunci utama kelancaran ibadah umroh terletak pada pemahaman rukun yang berurutan (tertib). Seluruh rangkaian intinya berpusat pada empat tahapan utama: Ihram dari Miqat, Tawaf, Sa’i, dan Tahallul.
1. Ihram dan Niat dari Miqat
Miqat adalah batas tempat dan waktu yang ditentukan syariat untuk memulai ibadah umroh. Jika mendarat di Madinah lebih dulu, miqat umumnya diambil di Bir Ali (Dzulhulaifah). Jika langsung menuju Jeddah/Makkah, miqat dilakukan di dalam pesawat saat melintasi wilayah Yalamlam atau bandara transit.
- Persiapan Fisik: Mandi sunnah ihram, memotong kuku, merapikan kumis/janggut, dan memakai wewangian di badan sebelum berniat (bukan di kain ihram).
- Pakaian Ihram: Dua lembar kain putih tak berjahit bagi laki-laki (satu dililit sebagai sarung, satu diselempangkan di pundak). Bagi perempuan, pakaian muslimah syar’i yang menutup seluruh aurat kecuali wajah dan telapak tangan.
- Niat Umroh: Dilafalkan setelah mengenakan ihram dan melaksanakan salat sunnah ihram:
“Labbaikallaahumma ‘umratan” (Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah untuk berumroh). - Larangan Ihram: Sejak berniat, hindari memotong rambut/kuku, memakai wewangian, menutup wajah/tangan (wanita), memakai topi/sepatu tertutup menutupi mata kaki (pria), serta bertengkar atau bermesraan. Perbanyak melantunkan bacaan Talbiyah selama perjalanan ke Masjidil Haram.
2. Tawaf Mengelilingi Ka’bah
Setibanya di Masjidil Haram, hentikan bacaan talbiyah saat mulai hendak tawaf. Tawaf adalah berjalan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali putaran berlawanan arah jarum jam.
- Syarat Sah: Suci dari hadas kecil dan besar (berwudu) serta menutup aurat.
- Posisi Awal: Dimulai dan diakhiri lurus dengan garis Hajar Aswad (kini ditandai lampu hijau di dinding masjid).
- Praktek Laki-laki: Membuka bahu kanan (Idhthiba’) dengan menyelipkan kain ihram di bawah ketiak kanan dan diletakkan di pundak kiri.
- Doa: Tidak ada bacaan wajib per putaran, bebas membaca zikir, doa pribadi, atau Al-Qur’an. Disunnahkan membaca doa sapu jagat di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad:
“Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzabannaar.” - Pasca Tawaf: Tutup kembali kedua bahu, lalu lakukan salat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim (jika memungkinkan) dan minumlah air zamzam.
3. Sa’i antara Bukit Shafa dan Marwah
Sa’i adalah berjalan kaki bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali perjalanan.
- Titik Awal & Akhir: Dimulai dari Bukit Shafa dan berakhir di Bukit Marwah.
- Hitungan Putaran: Dari Shafa ke Marwah dihitung 1 putaran; Marwah ke Shafa dihitung putaran ke-2. Putaran ke-7 tepat berakhir di Marwah.
- Pilar Hijau: Khusus jemaah laki-laki, disunnahkan berlari-lari kecil saat melintasi area yang ditandai lampu pilar hijau.
- Kondisi Wudu: Berwudu saat sa’i berstatus sunnah, bukan syarat sah. Jika wudu batal di tengah sa’i, ibadah tetap sah dan dapat langsung dilanjutkan.
4. Tahallul (Memotong Rambut) dan Tertib
Tahallul adalah penutup sekaligus pembebas jemaah dari seluruh larangan ihram. Ibadah umroh selesai setelah tahallul dilakukan.
- Laki-laki: Disunnahkan mencukur gundul (tahliq) untuk keutamaan pahala yang lebih besar, atau memendekkan rambut secara merata (taqshir).
- Perempuan: Mengumpulkan ujung rambut lalu memotongnya sepanjang satu ruas jari (sekitar 2–3 cm).
- Tertib: Seluruh rukun di atas wajib dikerjakan berurutan tanpa mendahului satu rukun atas rukun lainnya.
Ibadah umroh memerlukan stamina fisik yang prima. Jaga asupan cairan, siapkan alas kaki yang nyaman, dan ikuti instruksi pembimbing ibadah (muthawif) agar setiap rukun terlaksana dengan sempurna dan bernilai mabrur.
